clear

Misteri Kisah Syekh Siti Jenar Menurut Babad Tanah Jawi

Adminesia - Mei 20, 2020 - 1 komentar

Apakah Siti Jenar benar-benar ada?

Ada yang mengatakan bahwa Siti Jenar itu berasal dari Persia, ada juga yang menyebut berasal dari tanah Arab. Ada yang mengatakan dia itu putra seorang pendeta dari Gunung Srandil.

Ada juga yang mengatakan putra seorang Raja Pendeta bernama Resi Bungsu dari Pajajaran. Manakah sebenarnya yang benar?

Babad tanah Sunda malah menyebut syekh Siti Jenar masih keturunan Nabi Muhammad SAW. Benarkah ini?

Sebagian orang berpendapat tokoh Siti Jenar sengaja dimunculkan secara imajiner untuk membendung arus paham syiah terutama dari sekte wihdatul wujud atau pantheisme kesatuan hamba dengan Tuhan atau manunggaling kawula Gusti.

Sebab masa Wali Songo cukup dekat dengan hidupnya seorang tokoh sufi terkemuka bernama Ibnu Arabi yang beragam Wihdatul Wujud.

Bahkan sejarah telah mencatat bahwa tokoh Wihdatul terbesar dari Baghdad yaitu Al-Hallaj pernah mengembara hingga ke tanah Hindustan dan berdakwah di negeri itu selama beberapa tahun.

Tidak mustahil faham yang diajarkan Al-Hallaj tersebut disebarkan pula oleh orang-orang Hindia ke Tanah Jawa. Sebab banyak sekali orang-orang Hindia Gujarat yang berdagang dan berdakwah ke Tanah Jawa.

Para Wali yang tergabung dalam Wali Songo telah berhasil menyebarkan agama Islam secara besar-besaran di Tanah Jawa menurut mahzab imam Syafi'i dan berakidah Ahlussunah Walaupun Jama'ah.

Jelas para wali tersebut tidak ingin faham Wihdatul Wujud yang menimbulkan polemik dan perdebatan di tanah Baghdad merusak dan mengacaukan akidah yang sudah diimani oleh penduduk tanah Jawa.

Maka diciptakanlah tokoh imajiner bernama Siti Jenar yang fahamnya juga Wihdatul Wujud. Demikian menurut sebagian orang.

Tetapi orang-orang Jawa merasa yakin bahwa Syekh Siti Jenar itu benar-benar ada. Bahkan Syekh Siti Jenar dianggap sebagai tokoh keramat, wali sejati, dan guru besar mereka.

Keyakinan mereka ini biasanya berdasarkan catatan-catatan suluk dan babad Tanah Jawi yang biasanya memuat kisah Syekh Siti Jenar secara tendensius dan mendiskreditkan peran Wali Songo yang dianggap memusuhi Syekh Siti Jenar.

Perhatian! Tolong supaya anda berhati-hati dalam membaca kisah ini. Karena mungkin akan dapat mempengaruhi keyakinan atau pemikiran anda. Sekali lagi tolong berhati-hati.

Asal Usul Siti Jenar Menurut Versi Babad Tanah Jawi

Dalam babad Tanah Jawi(Galuh Mataram), disebutkan bahwa pada suatu ketika para wali berkumpul di Giri Kedaton, Gresik. Karena Sunan Giri yang bergelar Prabu Satmata yang dianggap raja (Mufti) dari para wali Jawa.

Dalam pertemuan itu Sunan Bonang berkata kepada para wali, "Wahai anakku Sunan Giri. Saya memberitahukan, bahwa wali di Jawa telah lengkap berjumlah delapan orang. Adik Sunan Kalijagalah yang menjadi penutup."

Sunan Giri menyetujui usul Sunan Bonang itu, para wali yang lain juga merasa tidak ada yang keberatan. Sunan Kalijaga sendiri yang justru merasa keberatan.

Berkata Sunan Kalijaga. "Hamba menjadi sunan, tetapi belum pernah mendapat petunjuk-petunjuk. Bila tidak keberatan, hamba mohon petunjuk-petunjuk.

Raden Rahmat Sunan Ampel berkata, "Anakku Sunan Bonang, baiklah Sunan Kalijaga diberi petunjuk-petunjuk."

Sunan Bonang menyanggupi, lalu pergilah mereka berdua keluar. Mereka pergi ke sebuah telaga dan naik sebuah perahu. Ketika itu perahu yang mereka naiki bocor.

Sunan Bonang menyuruh Sunan Kalijaga menambalnya dengan tanah liat. Sunan Kalijaga pun mengambil tanah liat, lalu ditambalkannya pada tempat yang bocor tadi.

Bulan penuh sedang memancarkan cahayanya yang lembut. Suasana di telaga terasa tenang, tiada riak air membuat bunyi, tak ada angin yang mendesir.

Ketenangan dan ketentraman melingkupi kedua makhluk diatas perahu itu. Jalannya pelajaran ilmu hikmah tingkat tinggi dari Sunan Bonang kepada Sunan Kalijaga itu seperti orang yang sedang bermain teka-teki, karena Sunan Bonang mempergunakan kias.

"Ada suluh menyala dengan empat pusat, kalau api padam ke manakah perginya?" Kata Sunan Bonang.

Sunan Kalijaga menjawab, "Api pergi ke suluh tidak bercahaya."

Jawaban itu betul, karena ia dapat menerimanya dengan baik dan bersamaan dengan turunnya wahyu kepadanya.

Sunan Bonang Berkata, "Jangan sekali-kali kau ucapkan atau kau ajarkan wejangan ini, karena ini adalah ilmu ghaib (ilmu rahasia). Kalau ini sampai terdengar oleh makhluk lain, apapun wujudnya dan walaupun ia kafir asalkan ia dapat mengerti maksudnya, ia akan menjadi manusia yang sempurna (insan Kamil)."

Tiba-tiba ada seekor cacing laut yang mengerti akan wejangan Sunan Bonang kepada Sunan Kalijaga.

Cacing yang menempel di tanah penambal perahu itu berkata, "Wahai Kanjeng Sunan berdua, hamba dengan tidak sengaja ikut mendengar segala wejangan yang tuanku bicarakan. Hamba dapat mengerti, sehingga rasa-rasanya hamba akan menjadi manusia."

Bertanya Sunan Kalijaga, "Siapa kau?"

Cacing laut berkata, "Hamba cacing laut yang ada didalam tanah liat yang tuanku pakai untuk menambal perahu."

Sunan Bonang berkata, "Sudah menjadi takdir Allah, cacing lur karena mendengar wejangan ini, ia menjadi orang."

Manusia, duduk bersujud di kaki Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Ia menghormat kepada kedua wali yang dianggap sebagai guru dan penyebab wujudnya menjadi mulia.

Berkata Sunan Bonang, "Kuterima sembahmu (penghormatanmu), mulai sekarang kamu bernama Syekh Lemah Abang, karena engkau berasal dari tanah liat yang merah rupanya."

Kemudian Sunan Bonang berkata kepada Sunan Kalijaga, "Adi Sunan kali, itu suatu tanda ke Mahakuasaan Allah SWT, tak dapat dipikir-pikirkan. Sebenarnya Adi sebelum diterjang pun telah menjadi kekasih Allah. Yaitu pada waktu kamu hendak pergi haji ke Mekkah. Kamu disuruh kembali dan bertapa di bawah titian galanggang."

Sunan Bonang melanjutkan perkataannya itu, "Kamu tidur disitu 100 hari lamanya andaikata kamu bukan kekasih Tuhan tentu badanmu sudah hancur lebur, kamu telah terpilih oleh Tuhan. Kehidupay akan abadi, walaupun badanmu hancur binasa. Kamu akan terus hidup, walau kehidupanmu takkan menghidupi."

Sunan Bonang melanjutkan lagi, "Segala wali belum pernah ada seorang pun yang telah menyebrangi lautan kematian (maut) setempat yang kamu kerjakan. Akun ini seperti menghadapi botol di dalam gelas, dapat melihat Maya (bukan barang yang sesungguhnya) tapi belum pernah dapat merasakannya. Oleh karena itu bila disetujui, tunjuklah aku Adi, biarpun aku dikatakan orang kerbau menyusu pada anaknya, wali berguru pada sahabat."

Sunan Kalijaga menjawab, "Hamba menurut, karena hamba hanya bersifat mengantar. Jalannya dapat dikatakan mudah tapi juga sulit. Syaratnya hanyalah, tak boleh was-was dalam hati."

Keduanya lalu berdiri berhadap-hadapan, kedua tangan berpegangan pada pinggang satu sama lain. Kedua mengheningkan cipta, membaca doa-doa dan dalam sekejap mereka telah sampai di Mekkah, meninggalkan Syekh Lemah Abang, namun tidak lama kemudian Syekh Lemah Abang mampu menyusul gurunya ke Mekkah.

Ternyata di Mekkah para wali lain sudah ada di sana. Kemudian mereka shalat Jum'at. Sesudah shalat Jum'at mereka bermusyawarah untuk mendirikan masjid di Jawa.

Singkat cerita para wali pulang ke Jawa dan segera mendirikan masjid Demak. Syekh Lemah Abang atau Siti Jenar ikut menyebarkan agama Islam di sebuah daerah yang bernama Lemah Abang.

Mula-mula Syekh Lemah Abang ikut shalat Jum'at secara rutin di masjid Demak. Namun lama-lama ia jarang hadir di masjid Demak. Hal ini menimbulkan tanda tanya di kalangan para wali.

Pada suatu hari, setelah usai menunaikan shalat Jum'at. Para wali mengadakan musyawarah yang dipimpin oleh Sunan Giri.

Sunan Giri membuka musyawarah, "Saudara-saudara para Aulia, soal yang hendak saya ajukan adalah masalah Syekh Siti Jenar. Ia telah lama tidak kelihatan shalat Jum'at di masjid Demak. Hal yang demikian menimbulkan pikiran yang bukan-bukan di kalangan orang awam."

Syekh Maulana Maghribi menyahut, "Tuanku, sebaiknya dia diberi peringatan, karena wali yang tak shalat berjamaah akan menjadi contoh yang kurang baik. Mungkin orang akan mengira wali teladan meninggalkan syariat Nabi Muhammad SAW."

Atas usul Syekh Maulana Maghribi tersebut kemudian Sunan Giri memanggil dua orang santri yang sudah tinggi ilmunya bernama santri Kodrat dan Malang Sumirang.

Berkata Sunan Giri, "Pergilah kamu ke tempat Syekh Siti Jenar. Katakan kepadanya bahwa ia ditunggu para wali untuk musyawarah."

Kedua orang murid itu bersemedi dan dalam sekejap mereka telah sampai di gua pertapaan Syekh Siti Jenar. Mereka memberi salam dari luar goa sambil berkata, "Prabu Satmata (Sunan Giri) menyuruh menghadap."

Dari dalam gua terdengar orang menjawab salam itu, "Syekh Siti Jenar tidak ada, yang ada hanyalah Allah SWT. Utusan kembalilah kepada wali."

Kedua utusan itu terbengong-bengong, tak mengerti akan perkataan Syekh Siti Jenar, tetapi mereka dengan patuh kembali, menghadap Sunan Giri dan melaporkan apa yang dialaminya.

Berkata Sunan Giri, "Cobalah tirukan apa kata-katanya."

Santri Kodrat membungkuk, "Kamu mendengar jawaban dari dalam gua sebagai berikut, "Syekh Siti Jenar tidak ada yang ada hanyalah Allah SWT. Utusan kembalilah kepada para wali "

Sunan Giri berkata, "Kalau begitu kembalilah dan katakanlah bahwa Allah diminati datang ke musyawarah para wali."

Kedua santri itu membungkuk hormat lalu pergi. Datang di muka gua, mereka menyampaikan perintah Sunan Giri. Sesaat kemudian terdengar jawaban dari dalam gua, "Allah tidak ada yang ada Siti Jenar."

Kedua orang santri itu dengan penasaran menyampaikan hal itu kepada Sunan Giri. Berkata Sunan giri, "Baiklah panggillah Siti Jenar dan Allah supaya bersama-sama menghadiri musyawarah para wali."

Kedua utusan itu pergi untuk ketiga kalinya dan kali ini mereka berhasil membawa Siti Jenar ke hadapan para wali. Setelah memberi hormat kepada wali yang tua dan menjabat tangan wali yang muda, Syekh Siti Jenar mengambil tempatnya.

Sunan Giri mengawali pembicaraan, "Wahai Syekh Siti Jenar. Kamu saya undang kemari untuk menghadiri musyawarah para wali tentang ilmu sufi."

Kemudian Sunan Giri menerangkan tentang apa yang disebut Dzat Allah, arti wewenang (Purbawasesa) kekuasaan Allah di jaman akherat, arti menghidupi dunia raya, keajaiban Allah dan sebagainya.

Sunan Ampel menambahkan keterangan tentang sifat Allah yang baka dan tak pernah berubah. Sunan Bonang mengatakan hal yang sama yaitu hanya Allah yang hidup baka, tak mengenal perubahan, menguasai hidup segala makhluk dan dunia.

Sunan Kalijaga mengatakan, bahwa Allah itu hidup yang sejati, baka, kekal, dan tak kena mati, menguasai seluruh makhluk, memenuhi dan meliputi seluruh dunia raya. Para wali yang lain juga memaparkan pengetahuannya. Sehingga giliran jatuh pada Syekh Siti Jenar.

Ia berkata: "Khalik dan makhluk itu sama. Jadi bila makhluk menyembah Khalik itu sama saja dengan Khalik menyembah Khalik. Nabi Allah sebenarnya jadi satu dengan Allah dan ada pada Allah.

Allah itu hanya sebutan, tidak mempunyai wujud. Muhammad itu pada hakekatnya Nur Allah, dalam bentuk lahir ialah manusia Muhammad. Siti Jenar menjadi gantinya atau wujudnya persatuan Makhluk dengan Khalik. Tak ada perasaan karena rasa dan hidupnya sudah satu.

Yang berkata-kafa ini tidak lain kecuali Syekh Siti Jenar. Hidup itu baka. Dunia dan Akhirat sama. Orang sesama hidupnya pun sebenarnya sama dengan Siti Jenar. Semuanya itu sama."

Sunan Giri berkata, "Jika itu kau ajarkan secara langsung kepada masyarakat kita yang masih awam maka mereka bisa jadi salah paham. Masjid akan kosong karena mereka tidak menghiraukan syariat. Tidak mau menyembah Allah lagi. Penuhilah syariatnya."

Syekh Siti Jenar menjawab dengan tersenyum, "Tuanku, kalau hidup itu hanya dipergunakan untuk sembahyang, itu berarti habis dipakai untuk bersopan santun saja. Ibadahnya tidak menjadi kuat.

Itu ilmunya orang bodoh dan kafir. Kalau orang itu betul-betul narima pada hakekatnya ia adalah persatuan kawula-gusti. Hendak menjadi Allah, dapat semau-maunya. Tak ada Allah sembahyang, tak ada Allah makan dan tidur, tapi ia menghidupi dunia."

Syekh Maulana Maghribi menyahut, "Kalau kamu benar-benar Allah dan kamu sudah percaya kepada syariat Nabi tentu kamu rela untuk mati. Tuan Allah Siti Jenar tak ada gunanya di dunia, hanya akan mengosongkan masjid. Lebih baik kau pulang surga."

Syekh Siti Jenar dengan tersenyum berkata: "Saya tidak berpegang pada kepercayaan, dunia dan akhirat saya miliki, karena apa saja yang kasar dan yang halus adalah milik saya, tidak lain. Sudahlah. Selamat tinggal wali-wali semua. Saya akan kembali ke Istikayat."

Syekh Siti Jenar naik ke angkasa, sayup-sayup kelihatan melihat dari pintu surga Rakhmatullah, tampak bercahaya-cahaya seperti matahari tunggang gunung. Semua yang melihat sangat takjub.

Sunan Giri memberi salam kepada yang pergi dan mendapat jawaban pula. Sunan Giri berkata lagi, "Saya mohon peninggalan untuk bukti pada hari yang akan datang."

Syekh Siti Jenar: "Terimalah baju saya ini, jangan kecewa sesudah saya pergi."

Baju dilemparkan dari pintu dan menjadi orang yang berdiri bersilang tangan seperti orang bersembahyang. Rupanya persis seperti Syekh Siti Jenar tapi tak berkata-kata.

Sunan Giri berkata kepada Sunan Palembang, "Syekh Siti Jenar telah mengatakan sanggup kembali ke surga dengan badan jasmaninya. Sekarang badan jasmaninya itu dikembalikan. Baiklah itu dihukum mati dan dibakar dalam api."

Syekh Maulana Maghribi bertindak, menarik pedangnya sambil berkata, "Melihatlah ke angkasa dan tunduklah ke bumi, ucapkan do'amu."

Lalu Siti Jenar ditikamnya dengan pedang, tapi tidak pudar (tidak mempan) walaupun ditikam sampai berkali-kali.

Syekh Maulana Maghribi berkaitan dengan penasaran, "Siti Jenar! Kamu berkata rela mati, tapi ketika ditikam tidak mempan. Bukankah itu bohong? Seketika tubuh Siti Jenar kelihatan luka-luka tikaman. Walau tubuhnya penuh luka tapi tetap berdiri."

Syekh Maulana Maghribi berkata dengan penasaran, "Itu luka orang jagat, mengapa luka tapi tidak berdarah? "Dari luka-luka di tubuh Siti Jenar seketika mengeluarkan darah merah."

Syekh Maulana Maghribi berkata, "Itu luka orang biasa, bukan kawula Gusti karena darah yang keluar berwarna merah." Darah merah yang keluar berhenti, darah putih ganti mengalir.

Syekh Maulana Maghribi berkata, "Ini seperti kematian pohon kayu, keluar getah dari lukanya. Sebenarnya kalau insal Kamil betul, tentu dapat masuk surga dengan badan jasmaninya, berarti kawula Gusti tak terpisah.

Dalam sekejap mata tubuh Siti Jenar hilang secara ghaib. Syekh Maulana Maghribi lalu membuat muslihat. Diambilnya seekor anjing putih dari Kudus, lalu ditikam lehernya.

Bangkainya dibungkus dengan kain putih, kepalanya diberi sorban, kemudian dipertontonkan kepada khalayak ramai dan diumumkan bahwa Siti Jenar telah meninggalkan syariat Nabi Muhammad SAW sehingga mendapat hukuman mati dan berubah menjadi anjing. Kabar itu segera terdengar ke seluruh daerah.

Tersebutlah, ada seorang murid Siti Jenar yang bernama Lintang Asmara, ia seorang pengembala kambing. Ia juga mendengar berita kematian gurunya. Maka ia datang ke hadapan para wali.

Lalu berkata, "Saya dengar tuan-tuan telah membunuh guru saya Syekh Siti Jenar. Kalau hal itu benar, baiklah saya dibunuh juga, sebab saya ini Allah juga. Allah yang mengembalakan kambing."

Syekh Maulana Maghribi segera saja menarik pedangnya dan ditikamnya Lintang Asmara. Lehernya putus, tubuhnya jatuh ke bumi. Tapi seketika tubuhnya hilang lenyap secara ghaib. Semua orang yang melihatnya merasa takjub bukan main.

Beberapa hari kemudian anjing pengganti Siti Jenar dibakar. Setelah api padam terdengar suara: "Hai para wali, kamu itu pendeta yang berbuat salah terhadap sesama hidup. Kamu pendeta bersifat sepeti telur, putih diluar, kuning di dalam.

Kamu hanya membuat kesusahan di belakang hari. Saya akan membalas cucu cicitnya, yaitu pada jaman Mataram, para wali akan rusak. Ingat-ingatlah, bila pada jaman Mataram itu ada raja yang suka bertapa pada waktu itulah datangnya pembalasanku.

Kalau kamu belum tahu siapa aku ini, dengarlah baik-baik. Saya ini anak seorang pendeta dari Gunung Serandil. Saya kena kutuk ayahku menjadi cacing dan dibuang ke pulau Jawa.

Saya mendapat ampun Allah SWT dan kembali berupa manusia bernama Siti Jenar. Selamat tinggal!"

Demikianlah nukilan kisah Siti Jenar versi babad tanah Jawi Galuh Mataram. Semoga artikel ini bermanfaat untuk anda. Dan harap berhati-hati dalam menafsirkan kembali kisah diatas, karena memang kisah ini masih banyak pro dan kontra.

Terima kasih telah membaca dan berkunjung ke blog ini, jangan lupa kembali berkunjung di lain waktu untuk informasi menarik lainnya.

Apakah Siti Jenar benar-benar ada?

Ada yang mengatakan bahwa Siti Jenar itu berasal dari Persia, ada juga yang menyebut berasal dari tanah Arab. Ada yang mengatakan dia itu putra seorang pendeta dari Gunung Srandil.

Ada juga yang mengatakan putra seorang Raja Pendeta bernama Resi Bungsu dari Pajajaran. Manakah sebenarnya yang benar?

Babad tanah Sunda malah menyebut syekh Siti Jenar masih keturunan Nabi Muhammad SAW. Benarkah ini?

Sebagian orang berpendapat tokoh Siti Jenar sengaja dimunculkan secara imajiner untuk membendung arus paham syiah terutama dari sekte wihdatul wujud atau pantheisme kesatuan hamba dengan Tuhan atau manunggaling kawula Gusti.

Sebab masa Wali Songo cukup dekat dengan hidupnya seorang tokoh sufi terkemuka bernama Ibnu Arabi yang beragam Wihdatul Wujud.

Bahkan sejarah telah mencatat bahwa tokoh Wihdatul terbesar dari Baghdad yaitu Al-Hallaj pernah mengembara hingga ke tanah Hindustan dan berdakwah di negeri itu selama beberapa tahun.

Tidak mustahil faham yang diajarkan Al-Hallaj tersebut disebarkan pula oleh orang-orang Hindia ke Tanah Jawa. Sebab banyak sekali orang-orang Hindia Gujarat yang berdagang dan berdakwah ke Tanah Jawa.

Para Wali yang tergabung dalam Wali Songo telah berhasil menyebarkan agama Islam secara besar-besaran di Tanah Jawa menurut mahzab imam Syafi'i dan berakidah Ahlussunah Walaupun Jama'ah.

Jelas para wali tersebut tidak ingin faham Wihdatul Wujud yang menimbulkan polemik dan perdebatan di tanah Baghdad merusak dan mengacaukan akidah yang sudah diimani oleh penduduk tanah Jawa.

Maka diciptakanlah tokoh imajiner bernama Siti Jenar yang fahamnya juga Wihdatul Wujud. Demikian menurut sebagian orang.

Tetapi orang-orang Jawa merasa yakin bahwa Syekh Siti Jenar itu benar-benar ada. Bahkan Syekh Siti Jenar dianggap sebagai tokoh keramat, wali sejati, dan guru besar mereka.

Keyakinan mereka ini biasanya berdasarkan catatan-catatan suluk dan babad Tanah Jawi yang biasanya memuat kisah Syekh Siti Jenar secara tendensius dan mendiskreditkan peran Wali Songo yang dianggap memusuhi Syekh Siti Jenar.

Perhatian! Tolong supaya anda berhati-hati dalam membaca kisah ini. Karena mungkin akan dapat mempengaruhi keyakinan atau pemikiran anda. Sekali lagi tolong berhati-hati.

Asal Usul Siti Jenar Menurut Versi Babad Tanah Jawi

Dalam babad Tanah Jawi(Galuh Mataram), disebutkan bahwa pada suatu ketika para wali berkumpul di Giri Kedaton, Gresik. Karena Sunan Giri yang bergelar Prabu Satmata yang dianggap raja (Mufti) dari para wali Jawa.

Dalam pertemuan itu Sunan Bonang berkata kepada para wali, "Wahai anakku Sunan Giri. Saya memberitahukan, bahwa wali di Jawa telah lengkap berjumlah delapan orang. Adik Sunan Kalijagalah yang menjadi penutup."

Sunan Giri menyetujui usul Sunan Bonang itu, para wali yang lain juga merasa tidak ada yang keberatan. Sunan Kalijaga sendiri yang justru merasa keberatan.

Berkata Sunan Kalijaga. "Hamba menjadi sunan, tetapi belum pernah mendapat petunjuk-petunjuk. Bila tidak keberatan, hamba mohon petunjuk-petunjuk.

Raden Rahmat Sunan Ampel berkata, "Anakku Sunan Bonang, baiklah Sunan Kalijaga diberi petunjuk-petunjuk."

Sunan Bonang menyanggupi, lalu pergilah mereka berdua keluar. Mereka pergi ke sebuah telaga dan naik sebuah perahu. Ketika itu perahu yang mereka naiki bocor.

Sunan Bonang menyuruh Sunan Kalijaga menambalnya dengan tanah liat. Sunan Kalijaga pun mengambil tanah liat, lalu ditambalkannya pada tempat yang bocor tadi.

Bulan penuh sedang memancarkan cahayanya yang lembut. Suasana di telaga terasa tenang, tiada riak air membuat bunyi, tak ada angin yang mendesir.

Ketenangan dan ketentraman melingkupi kedua makhluk diatas perahu itu. Jalannya pelajaran ilmu hikmah tingkat tinggi dari Sunan Bonang kepada Sunan Kalijaga itu seperti orang yang sedang bermain teka-teki, karena Sunan Bonang mempergunakan kias.

"Ada suluh menyala dengan empat pusat, kalau api padam ke manakah perginya?" Kata Sunan Bonang.

Sunan Kalijaga menjawab, "Api pergi ke suluh tidak bercahaya."

Jawaban itu betul, karena ia dapat menerimanya dengan baik dan bersamaan dengan turunnya wahyu kepadanya.

Sunan Bonang Berkata, "Jangan sekali-kali kau ucapkan atau kau ajarkan wejangan ini, karena ini adalah ilmu ghaib (ilmu rahasia). Kalau ini sampai terdengar oleh makhluk lain, apapun wujudnya dan walaupun ia kafir asalkan ia dapat mengerti maksudnya, ia akan menjadi manusia yang sempurna (insan Kamil)."

Tiba-tiba ada seekor cacing laut yang mengerti akan wejangan Sunan Bonang kepada Sunan Kalijaga.

Cacing yang menempel di tanah penambal perahu itu berkata, "Wahai Kanjeng Sunan berdua, hamba dengan tidak sengaja ikut mendengar segala wejangan yang tuanku bicarakan. Hamba dapat mengerti, sehingga rasa-rasanya hamba akan menjadi manusia."

Bertanya Sunan Kalijaga, "Siapa kau?"

Cacing laut berkata, "Hamba cacing laut yang ada didalam tanah liat yang tuanku pakai untuk menambal perahu."

Sunan Bonang berkata, "Sudah menjadi takdir Allah, cacing lur karena mendengar wejangan ini, ia menjadi orang."

Manusia, duduk bersujud di kaki Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Ia menghormat kepada kedua wali yang dianggap sebagai guru dan penyebab wujudnya menjadi mulia.

Berkata Sunan Bonang, "Kuterima sembahmu (penghormatanmu), mulai sekarang kamu bernama Syekh Lemah Abang, karena engkau berasal dari tanah liat yang merah rupanya."

Kemudian Sunan Bonang berkata kepada Sunan Kalijaga, "Adi Sunan kali, itu suatu tanda ke Mahakuasaan Allah SWT, tak dapat dipikir-pikirkan. Sebenarnya Adi sebelum diterjang pun telah menjadi kekasih Allah. Yaitu pada waktu kamu hendak pergi haji ke Mekkah. Kamu disuruh kembali dan bertapa di bawah titian galanggang."

Sunan Bonang melanjutkan perkataannya itu, "Kamu tidur disitu 100 hari lamanya andaikata kamu bukan kekasih Tuhan tentu badanmu sudah hancur lebur, kamu telah terpilih oleh Tuhan. Kehidupay akan abadi, walaupun badanmu hancur binasa. Kamu akan terus hidup, walau kehidupanmu takkan menghidupi."

Sunan Bonang melanjutkan lagi, "Segala wali belum pernah ada seorang pun yang telah menyebrangi lautan kematian (maut) setempat yang kamu kerjakan. Akun ini seperti menghadapi botol di dalam gelas, dapat melihat Maya (bukan barang yang sesungguhnya) tapi belum pernah dapat merasakannya. Oleh karena itu bila disetujui, tunjuklah aku Adi, biarpun aku dikatakan orang kerbau menyusu pada anaknya, wali berguru pada sahabat."

Sunan Kalijaga menjawab, "Hamba menurut, karena hamba hanya bersifat mengantar. Jalannya dapat dikatakan mudah tapi juga sulit. Syaratnya hanyalah, tak boleh was-was dalam hati."

Keduanya lalu berdiri berhadap-hadapan, kedua tangan berpegangan pada pinggang satu sama lain. Kedua mengheningkan cipta, membaca doa-doa dan dalam sekejap mereka telah sampai di Mekkah, meninggalkan Syekh Lemah Abang, namun tidak lama kemudian Syekh Lemah Abang mampu menyusul gurunya ke Mekkah.

Ternyata di Mekkah para wali lain sudah ada di sana. Kemudian mereka shalat Jum'at. Sesudah shalat Jum'at mereka bermusyawarah untuk mendirikan masjid di Jawa.

Singkat cerita para wali pulang ke Jawa dan segera mendirikan masjid Demak. Syekh Lemah Abang atau Siti Jenar ikut menyebarkan agama Islam di sebuah daerah yang bernama Lemah Abang.

Mula-mula Syekh Lemah Abang ikut shalat Jum'at secara rutin di masjid Demak. Namun lama-lama ia jarang hadir di masjid Demak. Hal ini menimbulkan tanda tanya di kalangan para wali.

Pada suatu hari, setelah usai menunaikan shalat Jum'at. Para wali mengadakan musyawarah yang dipimpin oleh Sunan Giri.

Sunan Giri membuka musyawarah, "Saudara-saudara para Aulia, soal yang hendak saya ajukan adalah masalah Syekh Siti Jenar. Ia telah lama tidak kelihatan shalat Jum'at di masjid Demak. Hal yang demikian menimbulkan pikiran yang bukan-bukan di kalangan orang awam."

Syekh Maulana Maghribi menyahut, "Tuanku, sebaiknya dia diberi peringatan, karena wali yang tak shalat berjamaah akan menjadi contoh yang kurang baik. Mungkin orang akan mengira wali teladan meninggalkan syariat Nabi Muhammad SAW."

Atas usul Syekh Maulana Maghribi tersebut kemudian Sunan Giri memanggil dua orang santri yang sudah tinggi ilmunya bernama santri Kodrat dan Malang Sumirang.

Berkata Sunan Giri, "Pergilah kamu ke tempat Syekh Siti Jenar. Katakan kepadanya bahwa ia ditunggu para wali untuk musyawarah."

Kedua orang murid itu bersemedi dan dalam sekejap mereka telah sampai di gua pertapaan Syekh Siti Jenar. Mereka memberi salam dari luar goa sambil berkata, "Prabu Satmata (Sunan Giri) menyuruh menghadap."

Dari dalam gua terdengar orang menjawab salam itu, "Syekh Siti Jenar tidak ada, yang ada hanyalah Allah SWT. Utusan kembalilah kepada wali."

Kedua utusan itu terbengong-bengong, tak mengerti akan perkataan Syekh Siti Jenar, tetapi mereka dengan patuh kembali, menghadap Sunan Giri dan melaporkan apa yang dialaminya.

Berkata Sunan Giri, "Cobalah tirukan apa kata-katanya."

Santri Kodrat membungkuk, "Kamu mendengar jawaban dari dalam gua sebagai berikut, "Syekh Siti Jenar tidak ada yang ada hanyalah Allah SWT. Utusan kembalilah kepada para wali "

Sunan Giri berkata, "Kalau begitu kembalilah dan katakanlah bahwa Allah diminati datang ke musyawarah para wali."

Kedua santri itu membungkuk hormat lalu pergi. Datang di muka gua, mereka menyampaikan perintah Sunan Giri. Sesaat kemudian terdengar jawaban dari dalam gua, "Allah tidak ada yang ada Siti Jenar."

Kedua orang santri itu dengan penasaran menyampaikan hal itu kepada Sunan Giri. Berkata Sunan giri, "Baiklah panggillah Siti Jenar dan Allah supaya bersama-sama menghadiri musyawarah para wali."

Kedua utusan itu pergi untuk ketiga kalinya dan kali ini mereka berhasil membawa Siti Jenar ke hadapan para wali. Setelah memberi hormat kepada wali yang tua dan menjabat tangan wali yang muda, Syekh Siti Jenar mengambil tempatnya.

Sunan Giri mengawali pembicaraan, "Wahai Syekh Siti Jenar. Kamu saya undang kemari untuk menghadiri musyawarah para wali tentang ilmu sufi."

Kemudian Sunan Giri menerangkan tentang apa yang disebut Dzat Allah, arti wewenang (Purbawasesa) kekuasaan Allah di jaman akherat, arti menghidupi dunia raya, keajaiban Allah dan sebagainya.

Sunan Ampel menambahkan keterangan tentang sifat Allah yang baka dan tak pernah berubah. Sunan Bonang mengatakan hal yang sama yaitu hanya Allah yang hidup baka, tak mengenal perubahan, menguasai hidup segala makhluk dan dunia.

Sunan Kalijaga mengatakan, bahwa Allah itu hidup yang sejati, baka, kekal, dan tak kena mati, menguasai seluruh makhluk, memenuhi dan meliputi seluruh dunia raya. Para wali yang lain juga memaparkan pengetahuannya. Sehingga giliran jatuh pada Syekh Siti Jenar.

Ia berkata: "Khalik dan makhluk itu sama. Jadi bila makhluk menyembah Khalik itu sama saja dengan Khalik menyembah Khalik. Nabi Allah sebenarnya jadi satu dengan Allah dan ada pada Allah.

Allah itu hanya sebutan, tidak mempunyai wujud. Muhammad itu pada hakekatnya Nur Allah, dalam bentuk lahir ialah manusia Muhammad. Siti Jenar menjadi gantinya atau wujudnya persatuan Makhluk dengan Khalik. Tak ada perasaan karena rasa dan hidupnya sudah satu.

Yang berkata-kafa ini tidak lain kecuali Syekh Siti Jenar. Hidup itu baka. Dunia dan Akhirat sama. Orang sesama hidupnya pun sebenarnya sama dengan Siti Jenar. Semuanya itu sama."

Sunan Giri berkata, "Jika itu kau ajarkan secara langsung kepada masyarakat kita yang masih awam maka mereka bisa jadi salah paham. Masjid akan kosong karena mereka tidak menghiraukan syariat. Tidak mau menyembah Allah lagi. Penuhilah syariatnya."

Syekh Siti Jenar menjawab dengan tersenyum, "Tuanku, kalau hidup itu hanya dipergunakan untuk sembahyang, itu berarti habis dipakai untuk bersopan santun saja. Ibadahnya tidak menjadi kuat.

Itu ilmunya orang bodoh dan kafir. Kalau orang itu betul-betul narima pada hakekatnya ia adalah persatuan kawula-gusti. Hendak menjadi Allah, dapat semau-maunya. Tak ada Allah sembahyang, tak ada Allah makan dan tidur, tapi ia menghidupi dunia."

Syekh Maulana Maghribi menyahut, "Kalau kamu benar-benar Allah dan kamu sudah percaya kepada syariat Nabi tentu kamu rela untuk mati. Tuan Allah Siti Jenar tak ada gunanya di dunia, hanya akan mengosongkan masjid. Lebih baik kau pulang surga."

Syekh Siti Jenar dengan tersenyum berkata: "Saya tidak berpegang pada kepercayaan, dunia dan akhirat saya miliki, karena apa saja yang kasar dan yang halus adalah milik saya, tidak lain. Sudahlah. Selamat tinggal wali-wali semua. Saya akan kembali ke Istikayat."

Syekh Siti Jenar naik ke angkasa, sayup-sayup kelihatan melihat dari pintu surga Rakhmatullah, tampak bercahaya-cahaya seperti matahari tunggang gunung. Semua yang melihat sangat takjub.

Sunan Giri memberi salam kepada yang pergi dan mendapat jawaban pula. Sunan Giri berkata lagi, "Saya mohon peninggalan untuk bukti pada hari yang akan datang."

Syekh Siti Jenar: "Terimalah baju saya ini, jangan kecewa sesudah saya pergi."

Baju dilemparkan dari pintu dan menjadi orang yang berdiri bersilang tangan seperti orang bersembahyang. Rupanya persis seperti Syekh Siti Jenar tapi tak berkata-kata.

Sunan Giri berkata kepada Sunan Palembang, "Syekh Siti Jenar telah mengatakan sanggup kembali ke surga dengan badan jasmaninya. Sekarang badan jasmaninya itu dikembalikan. Baiklah itu dihukum mati dan dibakar dalam api."

Syekh Maulana Maghribi bertindak, menarik pedangnya sambil berkata, "Melihatlah ke angkasa dan tunduklah ke bumi, ucapkan do'amu."

Lalu Siti Jenar ditikamnya dengan pedang, tapi tidak pudar (tidak mempan) walaupun ditikam sampai berkali-kali.

Syekh Maulana Maghribi berkaitan dengan penasaran, "Siti Jenar! Kamu berkata rela mati, tapi ketika ditikam tidak mempan. Bukankah itu bohong? Seketika tubuh Siti Jenar kelihatan luka-luka tikaman. Walau tubuhnya penuh luka tapi tetap berdiri."

Syekh Maulana Maghribi berkata dengan penasaran, "Itu luka orang jagat, mengapa luka tapi tidak berdarah? "Dari luka-luka di tubuh Siti Jenar seketika mengeluarkan darah merah."

Syekh Maulana Maghribi berkata, "Itu luka orang biasa, bukan kawula Gusti karena darah yang keluar berwarna merah." Darah merah yang keluar berhenti, darah putih ganti mengalir.

Syekh Maulana Maghribi berkata, "Ini seperti kematian pohon kayu, keluar getah dari lukanya. Sebenarnya kalau insal Kamil betul, tentu dapat masuk surga dengan badan jasmaninya, berarti kawula Gusti tak terpisah.

Dalam sekejap mata tubuh Siti Jenar hilang secara ghaib. Syekh Maulana Maghribi lalu membuat muslihat. Diambilnya seekor anjing putih dari Kudus, lalu ditikam lehernya.

Bangkainya dibungkus dengan kain putih, kepalanya diberi sorban, kemudian dipertontonkan kepada khalayak ramai dan diumumkan bahwa Siti Jenar telah meninggalkan syariat Nabi Muhammad SAW sehingga mendapat hukuman mati dan berubah menjadi anjing. Kabar itu segera terdengar ke seluruh daerah.

Tersebutlah, ada seorang murid Siti Jenar yang bernama Lintang Asmara, ia seorang pengembala kambing. Ia juga mendengar berita kematian gurunya. Maka ia datang ke hadapan para wali.

Lalu berkata, "Saya dengar tuan-tuan telah membunuh guru saya Syekh Siti Jenar. Kalau hal itu benar, baiklah saya dibunuh juga, sebab saya ini Allah juga. Allah yang mengembalakan kambing."

Syekh Maulana Maghribi segera saja menarik pedangnya dan ditikamnya Lintang Asmara. Lehernya putus, tubuhnya jatuh ke bumi. Tapi seketika tubuhnya hilang lenyap secara ghaib. Semua orang yang melihatnya merasa takjub bukan main.

Beberapa hari kemudian anjing pengganti Siti Jenar dibakar. Setelah api padam terdengar suara: "Hai para wali, kamu itu pendeta yang berbuat salah terhadap sesama hidup. Kamu pendeta bersifat sepeti telur, putih diluar, kuning di dalam.

Kamu hanya membuat kesusahan di belakang hari. Saya akan membalas cucu cicitnya, yaitu pada jaman Mataram, para wali akan rusak. Ingat-ingatlah, bila pada jaman Mataram itu ada raja yang suka bertapa pada waktu itulah datangnya pembalasanku.

Kalau kamu belum tahu siapa aku ini, dengarlah baik-baik. Saya ini anak seorang pendeta dari Gunung Serandil. Saya kena kutuk ayahku menjadi cacing dan dibuang ke pulau Jawa.

Saya mendapat ampun Allah SWT dan kembali berupa manusia bernama Siti Jenar. Selamat tinggal!"

Demikianlah nukilan kisah Siti Jenar versi babad tanah Jawi Galuh Mataram. Semoga artikel ini bermanfaat untuk anda. Dan harap berhati-hati dalam menafsirkan kembali kisah diatas, karena memang kisah ini masih banyak pro dan kontra.

Terima kasih telah membaca dan berkunjung ke blog ini, jangan lupa kembali berkunjung di lain waktu untuk informasi menarik lainnya.


Baca Juga: