clear

Benarkah Alam Semesta Bertambah Luas?

Adminesia - April 22, 2020 - Tidak ada komentar
Alan semesta bertambah luas

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa galaksi-galaksi bergerak menjauh dari galaksi kita secara kontinyu. Para ilmuwan menganalogikan galaksi dengan sebuah balon yang diisi udara sampai ukurannya membesar.

Selanjutnya, setiap titik (yang melambangkan galaksi) pada balon itu bergerak saling menjauh. Hal ini menunjukkan bahwa titik-titik yang melingkupi galaksi Bimasakti semakin menjauh, meskipun galaksi kita tidak berada di titik tengah.

Ilmuwan yang pertama kali menyatakan bahwa alam semesta mengembang adalah ilmuwan Rusia, Alexander Friedmann. Pada tahun 1922, ia menegaskan bahwa alam semesta tidak mungkin statis atau berukuran tetap.

Alexander Friedmann
Jika kondisinya seperti ini, niscaya semua benda angkasa, bintang-bintang, dan galaksi tarik-menarik hingga berkumpul menjadi satu, sebagaimana hukum gravitasi Newton.

Pendapat Alexander Friedmann didasarkan pada Teori Relativitas Einstein. Inilah yang mendorong Alexander Friedmann untuk melontarkan pemikirannya tersebut.

Sebab hingga saat itu, orang-orang masih meyakini bahwa alam semesta bersifat statis atau tidak dinamis. Artinya, ukuran alam semesta tidak berubah dan tidak pula bertambah.

Alexander Friedmann meninggal pada tahun 1925 sebelum pemikirannya diterima dengan baik oleh para ilmuwan. Namun, tidak berselang lama, pada tahun 1929, ilmuwan Amerika, Hubbel, menyampaikan hal yang sama.

Kebenaran teorinya diterima para ilmuwan. Sejak itulah, teori ini dijadikan sebagai salah satu dasar pengetahuan mengenai alam semesta.

Hubble melakukan observasi menggunakan teleskop besar yang jangkauannya mencapai 5.000 juta tahun cahaya. Ia dapat mengungkap gugusan galaksi yang mirip unit-unit dasar alam semesta dengan ukuran yang berbeda-beda.

Edwin Hubble
Diantaranya ada yang mencakup puluhan dan ratusan galaksi yang terpisah jauh. Hasil observasi Hubble menunjukkan bahwa galaksi-galaksi bergerak teratur dan menjauh satu sama lain dengan kecepatan tinggi.

Hal itu berarti bahwa alam semesta mengembang secara kontinyu. Hubble menganalisis cahaya yang bersumber dari galaksi-galaksi yang berhasil ditemukannya.

Ternyata, cahaya tersebut tidak statis dan mengalami perpanjangan warna merah dalam bentuk gelombang-gelombang panjang.

Jika sebuah galaksi menjauh dari kita, maka bertambah panjang pula warna merah ini. Maksudnya, galaksi-galaksi yang jauh dari kita bergerak lebih cepat daripada galaksi yang lebih dekat dengan kita.

Selanjutnya Hubble menetapkan suatu hukum yang disebut hukum Hubble. Hukum tersebut menyatakan bahwa unit-unit alam semesta saling menjauh.

Kecepatan gerakan unit-unit saat menjauh akan bertambah seiring jauhnya jarak diantara unit-unit itu. Kajian terhadap gerakan galaksi yang saling menjauh terus dilakukan.

Para ilmuwan mengetahui bahwa semakin jauh jarak galaksi dari kita, kecepatannya semakin bertambah. Kecepatannya sekitar 100 km per detik pada jarak 3,3 juta tahun cahaya.

Sementara itu, bila jaraknya 6,6 tahun cahaya, maka kecepatannya bertambah 2 kali lipat, yakni 200 km per detik.

Apabila galaksi terletak di jarak yang jauh, kecepatannya mencapai kecepatan cahaya. Jika jaraknya semakin jauh, kecepatannya bisa melampaui kecepatan cahaya, dan kita tidak dapat menjangkaunya.

Galaksi-galaksi yang seperti ini akan terlihat di ruang angkasa yang tidak berujung. Kita tidak mampu mengetahuinya lantaran cahayanya tidak sampai kepada kita.

Galaksi di alam semesta diduga berjumlah 1 milliar galaksi, dan semuanya menjauh satu sama lain.

Galaksi kita mirip suatu permukaan bulat yang garis tengahnya 5 x (10 pangkat 27) cm. Adapun materi dan energi yang terkandung di dalamnya setara dengan 5 x (10 pangkat 56) gram.

Meskipun alam semesta terus bergerak secara kontinyu, alam semesta tidak akan mengalami kekosongan saat semua galaksi berada diluar batas pengamatan kita.

Sesungguhnya, alam semesta akan senantiasa terisi galaksi-galaksi, karena galaksi baru selalu bermunculan.

Galaksi baru terbentuk dari hidrogen dan gas-gas alam melalui perputaran dan pengumpulan akibat gaya gravitasi. Selanjutnya, terjadilah pemadatan gas yang dihimpun oleh bintang-bintang.

Dengan demikian, gas alam (hidrogen) merupakan materi dasar dari alam semesta. Gas ini tidak akan punah atau berkurang, sebab ia bersumber dari alam yang tak terbatas dan berproses secara kontinyu.

Gas hidrogen senantiasa diperbarui lantaran media pemadatan dan penciptaannya bersifat permanen di angkasa. Gas itu diproduksi sebanyak 10³² ton per detik.

Salah satu teori yang turut mendukung pengembangan alam semesta adalah teori asal-usul alam semesta. Teori tersebut diterima oleh sebagian besar ilmuwan.

Teori itu menyatakan bahwa pada awalnya, gas alam (materi) ini beku, statis, panas, dan padat. Selanjutnya, terjadilah ledakan besar (big bang) pada 5 x 10¹² tahun yang lalu.

Kemudian, materi-materi tersebut berhamburan dan sisi-sisinya bergerak saling menjauh sesuai hukum alam yang menyatakan bahwa gaya gravitasi pada materi berkurang secara perlahan.

Akibat gerakannya yang saling menjauh, sehingga jarak antar bagian meluas dalam sekejap.

Pada awalnya, materi tersebut hanya berjarak 1 milliar tahun cahaya, dan saat ini telah menjadi 10 kali lipat dari ukuran yang sebenarnya.

Perluasan itu terus berlangsung dan tak pernah berhenti. Mengenai hal tersebut, para ilmuwan menjelaskan bahwa bintang-bintang dan galaksi-galaksi seperti lukisan yang terdapat pada permukaan balon.

Balon ini ditiup terus-menerus sampai semua benda angkasa menjauh satu sama lain dalam proses pengembangan alam semesta.

Menurut para ilmuwan, alam semesta meluas setiap detik, sehingga tak ada sesuatu pun yang statis di tempatnya. Mereka menegaskan bahwa setelah 300 juta tahun cahaya. Jarak alam semesta semakin jauh.

Hal ini menunjukkan adanya peningkatan ukuran alam semesta. Sebenarnya, pengembangan alam semesta juga berarti perluasan angkasa.

Semoga artikel ini bermanfaat!
Alan semesta bertambah luas

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa galaksi-galaksi bergerak menjauh dari galaksi kita secara kontinyu. Para ilmuwan menganalogikan galaksi dengan sebuah balon yang diisi udara sampai ukurannya membesar.

Selanjutnya, setiap titik (yang melambangkan galaksi) pada balon itu bergerak saling menjauh. Hal ini menunjukkan bahwa titik-titik yang melingkupi galaksi Bimasakti semakin menjauh, meskipun galaksi kita tidak berada di titik tengah.

Ilmuwan yang pertama kali menyatakan bahwa alam semesta mengembang adalah ilmuwan Rusia, Alexander Friedmann. Pada tahun 1922, ia menegaskan bahwa alam semesta tidak mungkin statis atau berukuran tetap.

Alexander Friedmann
Jika kondisinya seperti ini, niscaya semua benda angkasa, bintang-bintang, dan galaksi tarik-menarik hingga berkumpul menjadi satu, sebagaimana hukum gravitasi Newton.

Pendapat Alexander Friedmann didasarkan pada Teori Relativitas Einstein. Inilah yang mendorong Alexander Friedmann untuk melontarkan pemikirannya tersebut.

Sebab hingga saat itu, orang-orang masih meyakini bahwa alam semesta bersifat statis atau tidak dinamis. Artinya, ukuran alam semesta tidak berubah dan tidak pula bertambah.

Alexander Friedmann meninggal pada tahun 1925 sebelum pemikirannya diterima dengan baik oleh para ilmuwan. Namun, tidak berselang lama, pada tahun 1929, ilmuwan Amerika, Hubbel, menyampaikan hal yang sama.

Kebenaran teorinya diterima para ilmuwan. Sejak itulah, teori ini dijadikan sebagai salah satu dasar pengetahuan mengenai alam semesta.

Hubble melakukan observasi menggunakan teleskop besar yang jangkauannya mencapai 5.000 juta tahun cahaya. Ia dapat mengungkap gugusan galaksi yang mirip unit-unit dasar alam semesta dengan ukuran yang berbeda-beda.

Edwin Hubble
Diantaranya ada yang mencakup puluhan dan ratusan galaksi yang terpisah jauh. Hasil observasi Hubble menunjukkan bahwa galaksi-galaksi bergerak teratur dan menjauh satu sama lain dengan kecepatan tinggi.

Hal itu berarti bahwa alam semesta mengembang secara kontinyu. Hubble menganalisis cahaya yang bersumber dari galaksi-galaksi yang berhasil ditemukannya.

Ternyata, cahaya tersebut tidak statis dan mengalami perpanjangan warna merah dalam bentuk gelombang-gelombang panjang.

Jika sebuah galaksi menjauh dari kita, maka bertambah panjang pula warna merah ini. Maksudnya, galaksi-galaksi yang jauh dari kita bergerak lebih cepat daripada galaksi yang lebih dekat dengan kita.

Selanjutnya Hubble menetapkan suatu hukum yang disebut hukum Hubble. Hukum tersebut menyatakan bahwa unit-unit alam semesta saling menjauh.

Kecepatan gerakan unit-unit saat menjauh akan bertambah seiring jauhnya jarak diantara unit-unit itu. Kajian terhadap gerakan galaksi yang saling menjauh terus dilakukan.

Para ilmuwan mengetahui bahwa semakin jauh jarak galaksi dari kita, kecepatannya semakin bertambah. Kecepatannya sekitar 100 km per detik pada jarak 3,3 juta tahun cahaya.

Sementara itu, bila jaraknya 6,6 tahun cahaya, maka kecepatannya bertambah 2 kali lipat, yakni 200 km per detik.

Apabila galaksi terletak di jarak yang jauh, kecepatannya mencapai kecepatan cahaya. Jika jaraknya semakin jauh, kecepatannya bisa melampaui kecepatan cahaya, dan kita tidak dapat menjangkaunya.

Galaksi-galaksi yang seperti ini akan terlihat di ruang angkasa yang tidak berujung. Kita tidak mampu mengetahuinya lantaran cahayanya tidak sampai kepada kita.

Galaksi di alam semesta diduga berjumlah 1 milliar galaksi, dan semuanya menjauh satu sama lain.

Galaksi kita mirip suatu permukaan bulat yang garis tengahnya 5 x (10 pangkat 27) cm. Adapun materi dan energi yang terkandung di dalamnya setara dengan 5 x (10 pangkat 56) gram.

Meskipun alam semesta terus bergerak secara kontinyu, alam semesta tidak akan mengalami kekosongan saat semua galaksi berada diluar batas pengamatan kita.

Sesungguhnya, alam semesta akan senantiasa terisi galaksi-galaksi, karena galaksi baru selalu bermunculan.

Galaksi baru terbentuk dari hidrogen dan gas-gas alam melalui perputaran dan pengumpulan akibat gaya gravitasi. Selanjutnya, terjadilah pemadatan gas yang dihimpun oleh bintang-bintang.

Dengan demikian, gas alam (hidrogen) merupakan materi dasar dari alam semesta. Gas ini tidak akan punah atau berkurang, sebab ia bersumber dari alam yang tak terbatas dan berproses secara kontinyu.

Gas hidrogen senantiasa diperbarui lantaran media pemadatan dan penciptaannya bersifat permanen di angkasa. Gas itu diproduksi sebanyak 10³² ton per detik.

Salah satu teori yang turut mendukung pengembangan alam semesta adalah teori asal-usul alam semesta. Teori tersebut diterima oleh sebagian besar ilmuwan.

Teori itu menyatakan bahwa pada awalnya, gas alam (materi) ini beku, statis, panas, dan padat. Selanjutnya, terjadilah ledakan besar (big bang) pada 5 x 10¹² tahun yang lalu.

Kemudian, materi-materi tersebut berhamburan dan sisi-sisinya bergerak saling menjauh sesuai hukum alam yang menyatakan bahwa gaya gravitasi pada materi berkurang secara perlahan.

Akibat gerakannya yang saling menjauh, sehingga jarak antar bagian meluas dalam sekejap.

Pada awalnya, materi tersebut hanya berjarak 1 milliar tahun cahaya, dan saat ini telah menjadi 10 kali lipat dari ukuran yang sebenarnya.

Perluasan itu terus berlangsung dan tak pernah berhenti. Mengenai hal tersebut, para ilmuwan menjelaskan bahwa bintang-bintang dan galaksi-galaksi seperti lukisan yang terdapat pada permukaan balon.

Balon ini ditiup terus-menerus sampai semua benda angkasa menjauh satu sama lain dalam proses pengembangan alam semesta.

Menurut para ilmuwan, alam semesta meluas setiap detik, sehingga tak ada sesuatu pun yang statis di tempatnya. Mereka menegaskan bahwa setelah 300 juta tahun cahaya. Jarak alam semesta semakin jauh.

Hal ini menunjukkan adanya peningkatan ukuran alam semesta. Sebenarnya, pengembangan alam semesta juga berarti perluasan angkasa.

Semoga artikel ini bermanfaat!


Baca Juga: